Sembilan Kalimat Yang Seharusnya Tidak Diucapkan Ke Anak

Sebagai orangtua, mengasuh adalah pelajaran yang tidak ada habisnya. Setiap hari ada pembelajaran baru. Namun, terkadang pekerjaan yang melelahkan, hari-hari yang sibuk membuat ayah dan ibu lupa menerapkan pelajaran tersebut. Kadang karena kelelahan dan kesibukan, ayah dan ibu tidak sadar bahwa kata-kata yang diucapkan, bisa menyakiti hati anak. Dan yang dapat ayah dan ibu lakukan hanyalah menyesal dan minta maaf. Lalu apakah penyesalan dan minta maaf dapat mengobati luka hati anak? Dalam artikel kali ini, Little Boss World akan membahas mengenai Sembilan Kalimat Yang Seharusnya Tidak Diucapkan Ke Anak.

“Biarkan Ibu (Ayah) Sendiri”

Setiap orangtua pasti membutuhkan istirahat. Bahkan, terkadang kepenatan akan rutinitas membuat orangtua mendambakan waktu sendiri (me time). Namun masalahnya, jika anak masih kecil apakah “me time” mungkin dilakukan? Tentu lebih susah ya, dibandingkan sebelum punya anak.

Namun sebaiknya hindari kata-kata seperti “Jangan ganggu ibu (ayah)”, “Ayah (ibu) lagi sibuk”,”Biarkan ibu (ayah) sendiri”. Kata-kata seperti itu akan membatasi relasi antara orangtua dan anak. Anak-anak mulai enggan untuk sekadar bercerita atau berdiskusi dengan orangtuanya.

Daripada menggunakan kata-kata yang menyakitkan hati anak, sebaiknya gunakan cara lain agar anak memiliki aktivitas lain dan orangtua memiliki waktu istirahat sejenak. Contoh, buat anak menonton video yang ia sukai (dan tentunya mendidik), minta pasangan untuk membantu mengajak anak bermain selagi kita beristirahat, dan lain-lain.

Atau ayah dan ibu dapat menggunakan bahasa yang lebih halus agar anak tidak sakit hati, seperti “Ayah (ibu) harus menyelesaikan tugas yang satu ini terlebih dahulu, pergilah main sebentar dengan ibu (ayah). Setelah ayah (ibu) selesai, kita akan bermain bersama”.

Bersikaplah bijaksana, berpikirlah dahulu sebelum berkata-kata.

“Kamu sangat …..”

Anak kecil mempercayai apa yang mereka dengar tanpa bertanya terlebih dahulu, bahkan ketika hal tersebut tentang diri mereka. Sehingga pengucapan yang negatif bisa menjadi doktrin untuk anak.

Ketika anak mendengar kata-kata “Kamu anak yang pemalu”. Maka anak akan mempercayai bahwa dirinya adalah anak yang pemalu. Demikian juga kalimat seperti “Kamu anak yang sangat nakal”, “kamu anak bodoh”, dan lain-lain.

Lebih baik gunakan kata yang positif untuk membangun karakter anak. Contohnya “Kamu anak yang pintar”, “kamu anak yang baik”, dan lain-lain.

“Jangan Menangis”

Anak-anak cenderung tidak bisa mengungkapkan amarah, kesedihan, dan rasa tidak nyamannya, sehingga ia cenderung menggunakan cara untuk mengungkapkannya dengan menangis. Namun kadang kata-kata ayah (ibu) tidak membuat solusi, namun justru membuat mereka menjadi sedih dan takut”. Contoh kata-kata tersebut “Jangan menangis”, “jangan jadi bayi”, “sudah besar, tidak ada alasan untuk takut”, dan lain-lain.

Daripada menggunakan kata-kata jangan, lebih baik ayah dan ibu dapat menggunakan kata-kata yang lebih baik. Contohnya “Ombak ini membuat adik takut, tapi kita hanya akan berdiri disini bersama sebentar dan membiarkan ombak berada di kaki kita. Ayah (ibu) janji tidak akan melepaskan tangan adik”.

“Mengapa kamu tidak bisa lebih baik dari kakak (Adik) kamu?”

Orangtua sebaiknya menghindari kata-kata yang bersifat membandingkan, baik perbandingan ke saudara kandungnya, atau sebayanya. Biasanya orangtua membandingkan untuk menjadi acuan. Yang sering dilupakan adalah anak-anak berkembang dengan kecepatan dalam diri mereka sendiri dan kepribadian mereka sendiri.  Anak cenderung tidak suka apabila dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ia akan cenderung merasa tertekan dan dapat merusak kepercayaan dirinya. Anak akan cenderung membenci ayah dan ibu dan justru tidak melakukan apa yang ayah dan ibu suruh ia lakukan.

Daripada membandingkan, sebaiknya berikan pujian atas hal kecil sekalipun yang sudah dilakukan anak. “Wah adik pintar ya, mau merapikan tempat tidurnya sendiri”, “Ibu bangga, adik merapikan sepatu sendiri”, dan lain-lain.

“Kamu tahu sebenarnya bisa lebih baik dari itu”

Saat anak sedang belajar, hal tersebut merupakan proses trial dan error. Jika anak melakukan kesalahan yang sama, sebaiknya beritahukan bagaimana cara yang seharusnya. Contoh saat anak mendapatkan nilai yang buruk dalam pelajaran sekolahnya.

Daripada memarahinya, sebaiknya ayah dan ibu juga memiliki peranan didalamnya. Contoh, dengan menanyakan alasannya. Dengan begitu anak akan lebih terbuka dan ayah (ibu) dapat mencari solusi terbaik.

“Berhenti sekarang, atau ayah (ibu) akan …..”

Orangtua yang sedang frustasi terhadap tingkah laku anak cenderung mengeluarkan kata-kata yang bersifat ancaman. Kalimat ancaman tersebut, seperti “Berhenti atau ayah (ibu) akan memukulmu”, “Jika kamu melakukannya sekali lagi, ayah (ibu) tidak akan membelikan kamu mainan lagi”, dan lain-lain. Kalimat ancaman tidak efektif dalam membuat perilaku anak menjadi lebih baik. Semakin orangtua menggunakan kata-kata yang bersifat ancaman, anak cenderung melawan.

Sebaiknya hindari kata-kata yang bersifat ancaman dan main tangan

“Tunggu sampai ayah pulang”

Jika anak salah dan ayah (ibu) ingin mendisiplinkannya, lebih baik segera lakukan jangan menunda sampai pasangan berada di rumah. Karena dengan menunda, anak akan lupa mengenai kesalahan apa yang telah ia lakukan.

“Ayo, lebih cepat”

Perhatikan seberapa sering ayah (ibu) meminta anak untuk bergegas dan bagaimana nada suara ayah (ibu) saat mengatakannya. Contoh anak kecil tidak bisa menggunakan sepatu dan mengikatnya dengan cepat karena ia sedang dalam proses belajar. Jika ayah (ibu) sedang sangat terburu-buru lebih baik bantu anak agar ia bergerak lebih cepat.

Mendesah setiap hari agar anak bergegas tidak akan membantunya bergerak lebih cepat. Ayah (ibu) dapat membiarkan anak melakukan sendiri saat ayah (ibu) tidak sedang terburu-buru.

“Bagus” atau “anak yang baik”

Pujian adalah salah satu kalimat yang baik untuk memotivasi anak. Namun, pujian harus diberikan saat anak melakukan sesuatu yang nyata. Jika ayah (ibu) memberikan pujian atas tindakan yang ia lakukan setiap harinya, pujian menjadi tidak berarti. Berikan pujian saat anak melakukan prestasi yang baru saja ia usahakan.

Sebagai orangtua, tentu kita menyadari bahwa mendidik anak merupakan pelajaran yang tidak pernah berakhir. Semoga artikel mengenai Sembilan Kalimat Yang Seharusnya Tidak Diucapkan Ke Anak dapat bermanfaat. Jangan lupa untuk meninggalkan kata-kata atau sekedar berbagi pengalaman pada kolom comment dibawah. Little Boss World sangat senang jika Dads dan Moms mau membagikan artikel ini di media sosial kalian.

By | 2018-01-09T01:58:03+00:00 Januari 9th, 2018|Kecerdasan & Pertumbuhan|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment