Difteri Pada Anak

Penyakit difteri sempat menjadi heboh di akhir tahun 2017. Difteri pada umumnya menyerang balita sampai anak-anak,(usia satu sampai sembilan tahun), namun ada juga yang menyerang bayi, remaja, dan orang dewasa. Seperti kasus yang terjadi di Indonesia pada akhir tahun 2017, dimana penderita difteri tidak hanya anak-anak saja, tetapi juga menyerang orang dewasa (berkisar antara usia 3,5 tahun sampai 45 tahun). Difteri merupakan penyakit berbahaya dan sangat mudah menular, dampaknya bisa berujung pada kematian. Dalam artikel kali ini, Little Boss World akan membahas mengenai Difteri Pada Anak.

DEFINISI DIFTERI

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae. Bahaya difteri terdapat pada racun yang dinamakan Exotoxin, yang diproduksi oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae.

PENULARAN DIFTERI

Melalui udara, entah saat penderita bersin atau batuk

Memegang barang atau mainan yang sudah terkontaminasi

Bersentuhan langsung pada luka borok (ulkus) penderita

Biasanya terjadi pada orang yang tinggal di lingkungan padat penduduk dan lingkungan yang kotor

GEJALA DIFTERI

Difteri terkadang tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderita tidak menyadari sedang terjangkit penyakit difteri. Difteri pada umumnya menunjukkan gejalanya dalam waktu dua sampai lima hari, terhitung sejak bakteri masuk ke tubuh. Gejala-gejala penyakit difteri antara lain :

1. Mengalami demam dan menggigil

Demamnya biasa tidak terlalu tinggi, sekitar 38 derajat celcius dan disertai dengan badan menggigil.

2. Sulit bernapas, kadang menghasilkan napas yang cepat

Penderita difteri biasanya sulit bernapas, karena racun dari difteri terus menghancurkan sel-sel sehat yang merusak saraf pernapasan. Anak yang terkena penyakit difteri biasanya mengorok (stridor), karena saluran pernapasannya menyempit.

3. Ada selaput berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel

Selaput ini disebut dengan pseudomembran, terbentuk dari tumpukan sel-sel yang mati karena rusak oleh racun difteri. Kadang selaput ini juga muncul di rongga hidung. Selaput ini teksturnya lengket, jadi jika diangkat atau dikelupas akan berdarah.

4. Sakit tenggorokan dan suara serak

Anak akan merasakan sakit saat menelan. Namun tidak semua sakit tenggorokan merupakan gejala difteri. Jika disertai dengan gejala lain, sebaiknya patut diwaspadai.

5. Badan lemas dan lelah

Badan lemas dan lelah ini biasanya disertai dengan berkurangnya nafsu makan

6. Pembengkakan di leher

Difteri menimbulkan pembengkakan pada limfa atau kelenjar getah bening.

7. Pilek

Dimana lama-kelamaan teksturnya kental dan kadang bercampur darah

8. Muncul ruam di kulit

Difteri kadang menyerang kulit dan menyebabkan borok (ulkus). Ruam berwarna kemerahan dan kulit menjadi meradang. Ulkus biasanya disertai dengan rasa yang sangat nyeri. Ulkus akan sembuh dalam beberapa bulan, namun meninggalkan bekas di kulit.

9. Batuk keras

Biasanya disertai dengan rasa nyeri dan biasanya disertai dengan darah

10. Jantung terasa berdebar-debar

Hal ini dikarenakan racun difteri terbawa oleh darah dan mengganggu kerja jantung. Jika sudah sampai tahapan ini, difteri sudah termasuk berbahaya.

Jika ayah atau ibu menemukan gejala-gejala diatas, sebaiknya langsung konsultasikan ke dokter.

DIAGNOSA DAN PENGOBATAN DIFTERI

Dokter biasanya akan menganalisa dulu gejala-gejalanya. Selanjutnya, dokter akan mengambil sampel dari lendir yang terdapat ditenggorokan, hidung atau ulkus yang terdapat dikulit untuk dianalisa di laboratorium. Biasanya jika dokter sudah mencurigai anak menderita difteri, dokter akan menganjurkan untuk anak menjalani perawatan di ruang isolasi rumah sakit. Obat yang diberikan yaitu antibiotik dan antitoksin.

  1. Antibiotik, digunakan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosisnya tergantung tingkat keparahan. Biasanya dikonsumsi selama dua minggu.
  2. Antitoksin, digunakan untuk menetralisir toksin atau racun yang sudah menyebar di tubuh.

Untuk penderita yang mengalami kesulitan bernapas, biasanya dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan, untuk penderita yang mengalami ulkus di kulit, dokter akan membersihkan bisul dengan sabun dan air.

Untuk keluarga penderita dan orang terdekat, biasanya akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan apakah tertular atau tidak.

KOMPLIKASI DIFTERI

Difteri harus segera diobati untuk mencegah adanya komplikasi serius dan penularan. Satu dari lima penderita, baik balita, anak-anak, dan dewasa meninggal dunia akibat komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit difteri. Beberapa komplikasi yang disebabkan oleh penyakit difteri

Masalah pernapasan

Difteri Hipertoksik

Bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang menghambat pernapasan. Partikel membran tersebut dapat masuk ke paru-paru dan berpotensi memicu peradangan pada paru-paru. Hal ini menyebabkan fungsi paru-paru mengalami penurunan dan menyebabkan masalah pernapasan.

Difteri hipertoksik memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal

Kerusakan Syaraf

Kerusakan jantung

Difteri menyebabkan anak sulit menelan, permasalahan pada saluran kemih, paralis, kelumpuhan diafragma dan pembengkakan saraf kaki dan tangan. Paralis pada diafragma menyebabkan pasien kesulitan bernapas, sehingga pasien membutuhkan alat bantu pernapasan. Paralis ini dapat terjadi pada awal gejala muncul atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Oleh sebab itu, anak atau penderita difteri yang mengalami komplikasi dianjurkan untuk tinggal dirumah sakit hingga 45 hari.

Bakteri difteri berpotensi menyebabkan peradangan otot jantung (miokarditis). Akibatnya detak jantung menjadi tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.

YANG HARUS DILAKUKAN SAAT MENCURIGAI ANAK TERKENA DIFTERI

Beberapa langkah yang harus dilakukan orangtua saat mencurigai anaknya mengidap difteri

  1. Memeriksakan ke dokter.
  2. Anak yang sudah positif menderita difteri, akan mendapat perawatan terisolasi di rumah sakit
  3. Anggota keluarga sebaiknya memeriksakan diri untuk memastikan tidak tertular penyakit difteri
  4. Jaga barang-barang bekas pakai anak yang menderita difteri dan lakukan sterilisasi. Caranya adalah dengan mencuci barang-barang tersebut dengan menggunakan sabun antiseptik sampai bersih.
  5. Anggota keluarga yang sehat sebaiknya mendapatkan imunisasi difteri. Reaksi dari imunisasi kadang bengkak dan demam. Cara mengatasinya minum obat penurun panas, minum jus buah dan susu. Jika gejala tidak kunjung berkurang, konsultasikan ke dokter.
  6. Patuhi dan ikuti semua petunjuk dan aturan dari dokter

PENCEGAHAN DIFTERI

Imunisasi DTP merupakan satu dari imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Sebelum memasuki usia satu tahun, anak diwajibkan mendapatkan 3 kali imunisasi DTP. Yaitu usia dua bulan, tiga bulan dan empat bulan. Selanjutnya anak mendapatkan imunisasi DTP usia 1,5 tahun dan lima tahun. Anak juga dapat diberikan pengulangan vaksin sejenis (Tdap/Td) usia 10 tahun dan 18 tahun. Sebaiknya vaksin Td ini dilakukan setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Semoga artikel mengenai Difteri Pada Anak dapat bermanfaat. Jangan lupa untuk meninggalkan kata-kata atau sekedar berbagi pengalaman pada kolom comment dibawah. Little Boss World sangat senang jika Dads dan Moms mau membagikan artikel ini di media sosial kalian.

Baca artikel terkait :

By | 2018-01-11T10:58:20+00:00 Januari 11th, 2018|Nutrisi & Kesehatan|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment